Bapak: Dek, menurutmu kamu cantik nggak?
Aku: Setiap perempuan harus merasa dirinya cantik karena ...
Bapak: Sik, bukan itu. Ibumu dua kali lipat lebih cantik darimu.
Aku: Loh berarti Bapak yang berkontribusi atas penurunan kecantikan dari garis keturunan ibu. Kasihan ibu, menikah dengan Bapak malah memperburuk keturunan. Lebih kasihan lagi aku, sebagai imbasnya.
Bapak: Ha ha ha ha!!! Loh bapak itu ketika muda seperti mudanya Rudi Salam. Coba lihat foto bapak ketika muda. Idola para wanita. Ibumu yang beruntung.
Aku: (((RUDI SALAAAAM))) ???!! Rudi Salam dari Ngadiluwih????!!!! ha ha ha ha
Puspita Anindya
Senin, 19 Desember 2016
Sabtu, 10 Desember 2016
Bila di Jeda Tak Ada Jendela
bila di jeda tak ada jendela
ke mana aku harus menikmati kopi dan kisahmu
tentang pengembaraan yang tak pernah usai sebelum kematian datang
bila di jeda tak ada jendela
ke mana aku harus menikmati sepi dan kantukku
yang menyerang tiba-tiba
bila di jeda tak ada jendela
bagaimana kita bisa bertemu
barangkali kau datang
tetapi tak mengetuk pintu
barangkali aku menunggu
tetapi tertidur
Jumat, 09 Desember 2016
Selasa, 06 Desember 2016
kabar
dalam remang sajakmu
kurebahkan tubuhku
untuk menanti kecup
'tika basah sisa hujan
masih menyetubuhi dingin di sukma
aku masih memilihmu
sebagai rahim kesepian
yang bisu
mendekap gamang
yang selalu datang tanpa permisi
merontokkan kepalsuan dalam diri
kabarku:
terbakar
aku
masih ingin mengejamu
tanpa jeda, tanpa henti
tapi aku telah berada
di sebuah titik.
kurebahkan tubuhku
untuk menanti kecup
'tika basah sisa hujan
masih menyetubuhi dingin di sukma
aku masih memilihmu
sebagai rahim kesepian
yang bisu
mendekap gamang
yang selalu datang tanpa permisi
merontokkan kepalsuan dalam diri
kabarku:
terbakar
aku
masih ingin mengejamu
tanpa jeda, tanpa henti
tapi aku telah berada
di sebuah titik.
Minggu, 04 Desember 2016
Berulang kali saya membacakan puisi Dorothea Rosa Herliyani yang berjudul "Kepada Penari". Berawal dari pencarian data mengenai gerakan perempuan pada Jurnal Perempuan. Setelah mengoleksi beberapa jurnal, saya mulai menyadari bahwa di setiap akhir jurnal tersebut selalu ada karya yang fresh dari para penulis perempuan yang sering kali memang tidak dimuat dalam buku antologi mereka atau bahkan berkeliaran di dunia maya. Saya salah satu yang beruntung menemukan puisi tersebut. Sebab, setelah saya bacakan ada beberapa yang kemudian mengeluh pada saya di mana harus mencari puisi tersebut dan akhirnya meminta kepada saya. *lanjut besok ("besok"-nya orang Jawa) puisinya akan saya posting.
Akhirnya saya mencoba menjadi orang yang baik dengan benar-benar melanjutkan postingan ini, tepat satu hari setelah tulisan di atas, hahaha.
baik langsung saja begini puisinya:
"Kepada Penari"
karya Dorothea Rosa Herliyani
aku dengar lenguhmu yang kering
dalam gerak jemari dan selendang terbuang
kuikuti jalan asing dari detik ke abad:
detak tumit dan lenting rambutmu yang gelap.
engkau menulis kehidupan yang sunyi tapi gaduh ..
*upss saya tidak berjanji untuk menuliskan seutuhnya.
lengkapnya bisa dilihat di Jurnal Perempuan edisi 62, halaman 135.
tapi saya akan mengungah video saya yang berkolaborasi dengan violist
Rabu, 12 Juni 2013
The Pilgrim

Beberapa hari yang lalu, saya mengunjungi Makam Raja-Raja Imogiri. Rencana awal ke tempat itu adalah untuk mencari background foto. Berhubung tempat itu adalah sebuah makam, maka saya mengambil konsep ziarah, ceritanya saya akan menjadi peziarah di sana. namun karena tangga yang saya naiki berjumlah sekitar 400 anak tangga, maka saya putuskan untuk beristirahan dengan teman saya. Tak lama kemudian seorang kakek naik bersama pengunjung yang lain dan tiba-tiba mengajak kami berbicara. setelah berbasa-basi, saya pikir kakek dan tamunya akan meninggalkan kami. Ternyata saya keliru, kakek itu manunggu saya dan mengajak saya naik ke atas, ke sebuah pendopo kecil di dekat pintu masuk makam Sultan. Sang kakek yang sudah sangat sepuh itu menyuruh kami melepas sepatu dan ia mulai berbicara panjang lebar. Untuk menghargai orang tua berbicara, saya dan teman saya memutuskan untuk mendengarkan dulu, sampai dia menjelaskan banyak hal mengenai kepercayaan orang-orang untuk meminta jabatan, anak, dan keinginan-keinginan yang lainnya. tak sampai di situ, setelah ia selesai berkisah, ia pun menyuruh kami untuk minum air dari kendi yang dipercaya memiliki keistimewaan, sebab air tersebut hanya diisi ketika Suro saja, setahun sekali. Setelah meminum air kendi, sang kakek mengajak kami berkeliling. saat kami memulai perjalanan tiba-tiba sang kakek menyapa turis asing yang memang mirip dengan saudara kita di Indonesia bagian Timur dan menyuruhnya bergabung bersama kami. Sang turis pun kebingungan karena sang kakek mengajak bicara dengan bahasa Jawa. -to be continue-
Sabtu, 08 Juni 2013
Langganan:
Postingan (Atom)
anindija
saya menyukai kendaraan ini bukan hanya karena bentuknya yang lucu, unik, pun menggemaskan namun lebih kepada saya sering kali merasa nyaman dan santai ketika menungganginya, biar terlambat datang kuliah saya tak merasa panik atau kelimpungan di jalan. dia telah membawa saya kemana saya suka serta senang-senang sampai hati susah jadi hilang.
sekedar menyapa
saya hanya ingin sedikit bicara ala kadarnya kepada anda, mari meramu kata!





