dalam remang sajakmu
kurebahkan tubuhku
untuk menanti kecup
'tika basah sisa hujan
masih menyetubuhi dingin di sukma
aku masih memilihmu
sebagai rahim kesepian
yang bisu
mendekap gamang
yang selalu datang tanpa permisi
merontokkan kepalsuan dalam diri
kabarku:
terbakar
aku
masih ingin mengejamu
tanpa jeda, tanpa henti
tapi aku telah berada
di sebuah titik.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar