
Beberapa hari yang lalu, saya mengunjungi Makam Raja-Raja Imogiri. Rencana awal ke tempat itu adalah untuk mencari background foto. Berhubung tempat itu adalah sebuah makam, maka saya mengambil konsep ziarah, ceritanya saya akan menjadi peziarah di sana. namun karena tangga yang saya naiki berjumlah sekitar 400 anak tangga, maka saya putuskan untuk beristirahan dengan teman saya. Tak lama kemudian seorang kakek naik bersama pengunjung yang lain dan tiba-tiba mengajak kami berbicara. setelah berbasa-basi, saya pikir kakek dan tamunya akan meninggalkan kami. Ternyata saya keliru, kakek itu manunggu saya dan mengajak saya naik ke atas, ke sebuah pendopo kecil di dekat pintu masuk makam Sultan. Sang kakek yang sudah sangat sepuh itu menyuruh kami melepas sepatu dan ia mulai berbicara panjang lebar. Untuk menghargai orang tua berbicara, saya dan teman saya memutuskan untuk mendengarkan dulu, sampai dia menjelaskan banyak hal mengenai kepercayaan orang-orang untuk meminta jabatan, anak, dan keinginan-keinginan yang lainnya. tak sampai di situ, setelah ia selesai berkisah, ia pun menyuruh kami untuk minum air dari kendi yang dipercaya memiliki keistimewaan, sebab air tersebut hanya diisi ketika Suro saja, setahun sekali. Setelah meminum air kendi, sang kakek mengajak kami berkeliling. saat kami memulai perjalanan tiba-tiba sang kakek menyapa turis asing yang memang mirip dengan saudara kita di Indonesia bagian Timur dan menyuruhnya bergabung bersama kami. Sang turis pun kebingungan karena sang kakek mengajak bicara dengan bahasa Jawa. -to be continue-





Tidak ada komentar:
Posting Komentar