ruang ini gelap, hanya ada sekerdip lilin yang menyala,sesekali sembunyi karna tertiup angin.
aku tertawa lepas, setelah sedari tadi dahiku berkerut, bibirku kumonyongkan ke depan, dan kedua tanganku kubiarkan saling pukul, kakiku kuperintahkan untuk menendang-nendang kursi yang ada di sampingku, berharap orang di sampingku menoleh, dan bertanya padaku -paling tidak, "ada apa?" tapi ternyata tak ada gunanya, memang ia sempat menoleh ke arahku namun kembali lagi menghadap ke depan, bahkan tertawa menyaksikan pertunjukan di depan kami seolah menertawakanku. fyuuh .. dahi semakin kukerutkan, bibir semakin kumonyongkan, kepalan tangan semakin kencang kuhantamkan ke pahaku, kaki kubiarkan mendorong kursi yang ada di depanku, sampai terdengar bunyi "kreeekkk" dan orang yang duduk di kursi itu menoleh ke belakang, memandangku sambil melotot, sebetulnya aku sedikit seram melihat wajahnya, berkumis, berkepala botak,dan wajahnya sangat berminyak tapi tidak lagi setelah mulutnya sedikit terbuka dan giginya mengintip berwarna emas. lucu, batinku.
begitu orang tua itu menoleh, orang di sampingku buru-buru meminta maaf, dan menggosok-gosok kepalaku sambil mengangguk-angguk tersenyum pada orang tua di depanku sampai rambutku berantakan. kurapikan rambutku, lalu kuulangi lagi perbuatan itu agar orang tua di depanku menoleh lagi, kali ini aku berusaha kepala botak itu mengeluarkan kata, sekedar umpatan juga tak apa. aku semakin senang. hahha.. dan berhasil si kumis botak itu berdiri, menoleh ke arahku sambil tangannya petentengan. aku sedikit mengkerut.
tiba-tiba orang di sampingku menyambarku, digendongnya aku, kemudian menawariku untuk menunggu di sebuah sebuah tempat, kuanggukkan kepalaku mantap. karna aku sedang tak suka menyaksikan sandiwara di depan kami. dalam gendongannya, dia menasehatiku agar aku tak keluar sebelum ia datang menjemputku. sekali lagi kuanggukkan kepalaku patuh.
ia buka pintu, lalu aku diturunkan di sebuah ruang yang gelap. dinyalakannya lilin buatku, lalu ia tutup pintu dan meninggalkanku sendiri. aku jempalitan di ruang itu, aku meloncat ke sana kemari, aku tertawa, aku terbahak, dan kemudian ... sepertinya aku tertidur, karena ketika kubuka mata, seorang yang menggendongku tadi, sedang meletakkan tubuhku di atas ranjangku. lalu tersenyum dan berkata, " bismika" pertanda menyuruhku untuk berdoa sebelum tidur (lagi).
aku merasa lebih senang berada di ruang gelap berteman kerlip lilin, dibandingkan menyaksikan pertunjukan wayang semalam suntuk bersama Ayahku dan orang-orang yang asing bagiku.
dan sejak saat itu, aku selalu bertanya apa aku tidak dibohongi lagi ketika ia mengajakku menyaksikan tari-tarian dan menikmati gending jawa yang mengalun indah. karena yang sering kudapati hanya bentangan layar putih, dan di depannya seorang dalang "berkhutbah". meskipun tetap ada alunan gamelan mengambang tapi aku tetap merasa dibohongi. pertunjukan itu bukanlah tari-tarian seperti yang kuingin. tapi sekarang aku rindu, sangat rindu menyaksikan bersamanya pertunjukan wayang, celetuk sang dalang, diiringi gamelan, dan sesekali suara sinden yang melengking indah. meskipun aku serigkali tertidur di pangkuannya ketika pertunjukan berlangsung, tapi entah ada kerinduan akan kenangan masa kecilku.

lebih suka baca yg satu ni....
BalasHapusk'penulis ya?...